Total Tayangan Halaman

Pendok Kemalo, Warangka Sunggingan dan Peruntukannya

Seringkali kita mendengar istilah pendok ketika mempelajari keris. Pendok bisa diartikan sebagai lapisan pelindung bagian “gandar” yakni bagian batang pada warangka keris. Pendok dalam bahasa Jawa halus atau krama inggil artinya “kandelan”. Kandel berarti tebal, bisa dimaknai sebagai upaya untuk terlihat menutupi, menebalkan dan juga melingkupi. 

Agar terlihat lebih bagus, indah, dan kuat maka gandar yang terbuat dari kayu perlu diberi pendok yang terbuat dari logam, seperti perak, tembaga, kuningan atau emas. Jenis logam yang digunakan untuk pendok menentukan harganya. Pendok dari logam murah dan dibuat secara sederhana harganya biasanya hanya puluhan ribu rupiah. Namun, jika logam yang dipakai berharga mahal, seperti emas murni ditambah lagi mempunyai hiasan permata, tentu harganya bisa lebih mahal lagi. Biasanya permata yang digunakan berupa batu-batuan seperti safir, merah delima, intan, bahkan berlian. Nah tingkat kemahalannya bergantung pada kualitas bahan dan garap yang dihasilkan. Semakin bagus tentu saja semakin mahal.

Selain dihias dengan berbagai pola ukir, ada juga pendok yang diberi warna merah, hitam, biru, merah, atau hijau. Pendok yang telah memiliki warna ini sering juga disebut dengan istilah pendok kemalo atau pendok kemalon. Kemalo adalah bahan pewarna yang terbuat dari bahan semacam lak (sirlak) yang diberi zat pewarna. Warna pendok juga biasanya menentukan status sosial pemakai atau pemiliknya.

Salah satu problem utama yang dihadapi saat ini adalah kemampuan untuk membuat pendok kemalo(n) yang tidak banyak dipunyai oleh pembuat pendok saat ini. Kebanyakan pendok kemalo yang beredar adalah pendok yang dicat atau kadang semprot dengan pilox. Kemampuan untuk membuat pendok kemalo sesuai dengan kaidah dan tradisi dulu rupanya sudah terputus. Hampir tidak ada generasi saat ini yang mampu membuat dengan teknik masa lalu. Alhamdulillah, Galeri Omah Nara berkesempatan belajar dan mempelajari berbagai teknik masa lalu dalam membuat pendok kemalo dengan lak. Disinilah mengapa pendok yang dihasilkan oleh Galeri Omah Nara berbeda dalam hal pewarnaan maupun kualitas yang dihasilkan. Kami berani menjamin kualitas terbaik dengan metode terbaik.

Penggunaan pendok kemalo tentu saja tidak bisa dilepaskan dari penggunaan warangka sunggingan. Seiring kebutuhan jaman, dewasa ini penggunaan pendok kemalo dengan berbagai warna dan warangka sunggingan masif digunakan oleh para penyuka tosan aji. Nah agar dalam penggunaannya masih mengikuti kaidah lama, berikut ini kami sajikan ketentuan penggunaan motif sungging dan pendoknya sesuai kaidah keraton jaman dulu sebagai berikut:

  • Ageman (yang dipakai) raja: Warangka dibabar gebekan kemudian disungging dengan motif khusus dilengkapi pendok kemalo merah. Presiden RI, Ibu Menko PMK, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Bapak Mensesneg alhamdulillah sudah memiliki keris dengan warangka sunggingan dan pendok kemalo yang diperuntukkan untuk raja dan kerabat serta para pangeran dan bangsawan jaman dulu. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Galeri Omah Nara untuk mempersembahkan koleksi tosan aji yang terbaik. 
  • Ageman pangeran putra dan pangeran cucu: warangka diberi dasar prada kuning emas kemudian disungging dengan motif khusus, dan dilengkapi dengan pendok kemalo merah.
  • Ageman para abdi dalem berpangkat bupati: warangka diberi dasar warna putih kemudian disungging dengan dilengkapi pendok kemalo warna hijau. 
  • Ageman para abdi dalem penewu dan mantri : warangka diberi dasar warna hijau kemudian disungging dan diperkenankan memakai pendok kemalo hijau. 
  •  Ageman para abdi dalem lurah dan tingkat dibawahnya: warangka diberi warna dasar biru kemudian disungging dan tidak diperkenankan  memakai pendok kemalo.
  •  Ageman para bekel atau administratur menengah kebawah: memakai kemalo warna coklat.
  •  Ageman para abdi dalem rendahan dan rakyat kebanyakan: kemalo warna hitam
Pelu dipahami bahwa pendok kemalo antara yogyakarta dan surakarta berbeda. Perbedaan ini selain bentuknya juga pada warna kemalo yang digunakan. Kaidah warna kemalo pada pendok jogja lebih gelap dan tua dibandingkan kemalo gaya Surakarta. Kemalo Surakarta lebih merah terang, baratnya seperti merahnya cabai yang sedan granum siap dipetik. Sedangkan penggunaan warna jogja lebih tua dan terkesan wingit.
Namun, kadangkala kaidah seperti ini seiring perkembangan jaman sudah tidak berlaku lagi. Banyak yang menggunakan berbagai varian dan warna pendok untuk berbagai kondisi warangka keris.

Para penyuka tosan aji lebih berpijak pada kebutuhan dan estetika yang berkembang dalam memperindah koleksi tosan aji yang dimiliki. Namun saran saya, sebelum anda mengkoleksi warangka sunggingan dan pendok kemalo, pelajari dahulu berbagai hal terkait ilmu dan pengetahuan mengenai pendok kemalo. Pemahaman akan ilmu tentu saja akan membuat anda mempunyai nilai lebih dibandingkan hanya sekedar suka. Nah, apakah anda sudah mempunyai koleksi pendok kemalo dan warangka sunggingan? Jika belum, belum terlambat untuk segera memilikinya

Komentar

  1. Kmrn sedang ngobrol mslh kemalo ini.bbrp org bilang bahwa kemalau hijau justru utk raja.cm mnrt hemat saya dr filosofi warna itu sendiri kok gak "masuk".nah, bgm mnrt oanjenengan ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer