Total Tayangan Halaman

Rumus Aman Menjadi Kolektor Tosan Aji


Kali ini, saya ingin berbagi beberapa rumus aman untuk menjadi kolektor tosan aji. Kita tahu beberapa waktu ini dunia keris dan tosan aji dilanda suatu kondisi "unstabilized" yang disebabkan beberapa hal, salah satunya muncul kekhawatiran bahwa koleksi yang sedang atau akan dikoleksi merupakan produk baru atau setengah baru (stw). Faktor ini didukung dengan kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil jelang pemilu menjadikan dunia tosan aji saat ini tidak sedang dalam kondisi baik. 

Melihat kondisi seperti itu, penulis menyarankan beberapa tips yang dapat diambil sebelum anda mengkoleksi tosan aji. Ini bukan rumus baku, namun berdasar pengamatan penulis selama beberapa tahun ini. Kata kuncinya, BELAJAR!!!

Pertama: Mau Belajar
Salah satu kunci utama dalam mengkoleksi tosan aji khususnya keris adalah keinginan untuk terus belajar terhadap siapapun tanpa pandang usia. Boleh jadi mereka yang usianya lebih muda dari kita lebih tahu dan memahami soal keris dan tosan aji dibandingkan kita sendiri. Belajar juga bisa dari media apa saja, dari buku, majalah, leaflet, tulisan di portal web, media sosial, share tulisan grup WA dll. Belajar juga perlu bertemu dengan orang-orang yang dianggap mengetahui soal tosan aji. Ingat, jangan malu bertanya daripada anda disesatkan di jalan.

Kedua: Tak malu bertanya
Tidak jumawa dan merasa tahu adalah kunci kedua untuk menjadi kolektor keris dan tosan aji. Orang seringkali malu bertanya karena takut diangap bodoh atau tidak memiliki dasar pegetahuan tentang keris dan tosan aji. Pandangan inilah yang justru menyesatkan karena pada titik inilah kita menjadi tidak belajar dan enggan untuk membuka hal-hal baru dalam pembelajaran mengenai tosan aji. Biarkan pandangan orang yang menilai kita tidak tahu karena pada titik itulah justru kesempatan kita untuk menyerap banyak ilmu baru.

Ketiga: Jangan merasa tahu
 Selama beberapa waktu ini saya belajar satu hal penting dalam dunia tosan aji, bahwa orang yang merasa tahu sebenarnya adalah orang yang tidak tahu. Pada titik inilah keingintahuan adalah kunci untuk membuat diri paham akan ilmu pengetahuan itu sendiri. Orang yang merasa tahu ibarat katak dalam tempurung, ia tidak mampu melihat dunia luar dan berbagai macam ragam pengetahuan tosan aji yang beraneka rupa. Ilmu pengetahuan tentang tosan aji bukanlah suatu pengetahuan yang statis, namuan ia adalah pengetahuan dinamis yang terus dan akan semakin berkembang. 

Saya melihat kepada mereka yang muda justru punya kesempatan untuk terus berkembang karena rasa keingin tahuan yang besar. Mereka tidak malu untuk belajar dari berbagai orang, dari berbagai usia terutama dari para kolektor senior yang terlebih dulu belajar mengenai tosan aji. Keuntungan lain kaum muda adalah mereka tidak sungkan dan menyerah untuk membuka tabir pembelajaran mengenai keris yang mencoba memadukan ilmu pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern dalam proses pembelajaran yang mereka lakukan. 

Keempat: Senang bergaul

Belajar keris dan tosan aji tak cukup hanya dari internet, media sosial maupun buku saja. Melihat keris bukan hanya sekadar melihat fotonya saja, namun juga merasakan "drama" yang ada dalam bilah keris. Drama dalam keris tidak cukup hanya dilihat dalam pandangan visual semata, namun ia perlu disentuh dan diraba dengan berbagai panca indera untuk dapat merasakan feelnya secara langsung. Di titik inilah kita harus banyak bersilaturahmi dan bergaul. Bukankah dalam agama mengajarkan kita untuk saling berinteraksi satu lainnya dalam bingkai silaturahmi? 

Kelima: Miliki kumpulan yang baik
Hal lain yang tidak dapat ditinggalkan adalah memiliki kelompok atau teman yang baik yang akan menunjukkan kebenaran bukan malah "njlomprongke" atau menjatuhkan dalam belajar mengenai keris dan tosan aji. Langkah termudah adalah dengan melihat track record, pengalaman dan bertemu langsung dengan yang bersangkutan. Jangan mudah percaya strategi branding seseorang yang dilakukan di media sosial. Kalau kita cermati kadang strategi branding seperti ini, dengan mengangkat seseorang atau beberapa orang dalam tim untuk menjadi juru bicara yang kemudian "senantiasa" ditanggapi positif oleh kelompoknya adalah salah satu metode yang sah dalam upaya marketing. 

Startegi ini digunakan agar yang bersangkutan akan menjadi media marketing ampuh dalam membranding produk atau keris mereka. Pada titik inilah kejelian untuk melihat mana yang branding dan yang bukan dibutuhkan oleh penyuka tosan aji. Dalam beberapa tahun ini saya melihat berbagai faksi kelompok yang ada mencoba menggunakan strategi branding personal dan kelompok untuk membuat citra positif bagi kelompoknya dan juga barang tentu, dagangannya. Pesan penulis, milikilah pengetahuan tentang keris dan tosan aji, karena dengan pengetahuan itulah anda tidak akan mudah kena bujuk rayu.

Keenam: Tidak tergesa-gesa dan terburu nafsu
Salah satu hal yang serig dilupakan oleh para penyuka tosan aji adalah perihal sabar. Kesabaran dibutuhkan tidak hanya dalam hal belajar atau mempelajari ilmu tosan aji, namun juga dalam hal menunggu koleksi yang tepat dan pas untuk dikoleksi. Seringkali banyak pecinta tosan aji yang baru menyukai tosan aji ingin segera mendapatkan berbagai koleksi tosan aji, akhirnya yang terjadi beragam tosan aji dikoleksi namun dalam sisi kualitas kurang baik atau bahkan tidak baik, kurang sekeca kalau dalam tradisi di Jawa Tengah. 
Dari sisi jumlah, saya meyakini ada ratusan ribu hingga jutaan tosan aji yang saat ini beredar di pasaran. Pertanyaannya, berapa jumlah maksimal seseorang untuk mengkoleksi dan menikmati karya tosan aji yang ada? saya memprediksi tidak lebih dari 100 bilah. Bagaimana akan menikmati beragam tosan aji sedangkan dalam sehari belum tentu satu atau dua tosan aji dipegang. Esensi terpenting dalam melihat tosan aji adalah pada saat proses permenungan mengenai makna dari tiap ricikan, detail, bentuk dan berbagai kandungan filosofis yang harapannya menjadi pengingat dalam tiap langkahnya. Inilah yang kadang dilupakan oleh para penyuka tosan aji, tak sekadar bentuk fisiknya saja, namun nilai yang terkandung juga perlu untuk diterjemahkan.

Ketujuh: Jangan kapok keblondrok
Nah di titik inilah esensi dari kesemuanya, anda diajari untuk tidak lantas menyerah dan patah semangat bila suatu saat anda menyadari bahwa koleksi anda tidak sesuai dengan bayangan anda selama ini. Keblondrok adalah istilah yang umum digunakan di dalam dunia perkerisan untuk menyebut orang yang telah tertipu atau ditipu pada saat memahari atau membeli tosan aji. Keblondrok adalah bahasa lain yang digunakan untuk menyebut penipuan dalam konteks tosan aji. Tosan aji baru dibilang lama, keris baru diproses jadi lama, inilah pemblondrokan. Terkecuali anda diberikan pengetahuan mengenai seluk beluk barang tersebut maka ia bisa berarti bukan pemblondrokan lagi. Pemblondrokan terjadi bila informasi yang disajikan tidak sesuai. 

Nah disinilah peran komunitas dan kelompok yang baik untuk saling mengingatkan sesuai dengan kemampuannya bila temannya menjadi sasaran tembak atau pemblondrokan. Mereka juga mendorong agar seorang kolektor atau penyuka tosan aji yang sudah sadar untuk terus mengkoleksi keris dan tosan aji meski ia sadar ia telah ditipu. Ketika ia mau bangkit lagi, maka disinilah proses pembelajaran sebenarnya terjadi. Anggap proses tersebut karena kesalahan tidak mau belajar. Bila kita lolos dari sisi ini, niscaya akan menjadi kolektor dengan tingkat kewaspadaan yang lebih baik.

Komentar

Postingan Populer