Warangka Sungging Asal Usul Semar, Togog dan Bathara Guru
Galeri Omah Nara kali ini mencoba menghadirkan kisah awal asal usul Semar, Togog dan Bathara Guru melalui karya warangka sunggingan. Sunggingan kali ini terinspirasi dari kisah Semar, Togog dan Bathara Guru sebagai putra Sang Hyang Tunggal. Sunggingan ini dibuat pada media warangka branggah jogja untuk keris patrem. Meski media gambar di warangkanya kecil, sunggingan ini tetap detail dan hidup, serta mampu menghadirkan suasana dan kisah dalam cerita tersebut. Mau tau bagaimana ceritanya? simak kisah berikut ini:
Pada awalnya, konon di puncak Gunung Mahameru yang berdekatan dengan Kawah
Candradimuka, merupakan Jonggring Saloko yang merupakan tempat tinggal Sang Hyang Tunggal beserta isterinya
yang bernama Dewi Rekatawati. Tersebutlah kisah Sang Hyang Tunggal dan isterinya sedang berbahagia karena
sebentar lagi mereka berdua akan segera memperoleh keturunan.
Kebahagiaan ini membuat seluruh wilayah Kahyangan Jongring Saloko menjadi sejuk dan cerah. Kawah Candradimuka pun tidak bergolak,
seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan mereka. Hari kelahiranpun tiba. Semua penghuni Jonggring Saloko bersiap menyambut kehadiran keturuan Sang Hyang Tunggal dan istrinya. Namun, rupanya
kebahagiaaan mereka harus tertunda karena Dewi Rekatawati ternyata tidak
melahirkan sesosok bayi dewa, melainkan sebutir telur yang besarnya
seukuran kelapa. Betapa sedih hati mereka berdua mengalami peristiwa
itu.
Dengan membawa butir telur yang semakin membesar, Sang Hyang
Tunggal bersama Dewi Rekatawati kemudian pergi menghadap Sang Hyang
Wenang, ayahanda Sang Hyang Tunggal. Dihadapan sang ayahandanya, Sang
Hyang tunggal menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama sang
isteri, dan juga menunjukkan telur yang dilahirkan dari isterinya. Dengan
bantuan Sang Hyang Wenang, akhirnya telur itu dapat berubah menjadi
tiga bayi dewa. Dari kulit telur itu berubah menjadi seorang bayi yang
kemudian diberi nama Hyang Antaga. Sementara itu dari putih telur juga
berubah menjadi seorang bayi yang kemudian diberi nama Hyang Ismaya.
Yang terakhir dari kuning telur berubah menjadi bayi dan diberi nama
Hyang Manikmaya.
Setelah mengucapkan terima kasih atas bantuan
yang diberikan oleh ayahandanya, Sang Hyang Tunggal bersama Dewi
Rekatawati kembali ke Kahyangan Jonggring Salaka bersama ketiga
putranya. Selanjutnya ketiga putranya itu diasuh dan dididik dengan
berbagai ilmu serta kesaktian hingga sampai dewasa dan menjadi sosok
dewa yang tampan dan berkesaktian tinggi. Saat Sang Hyang Tunggal
hendak mewariskan tahta Jonggrong Salaka terjadilah pertentangan antara
Hyang Antaga dengan Hyang Ismaya. Keduanya merasa berhak atas tahta
Jonggring Salaka karena mereka masing-masing menganggap dirinya yang
paling tua, sedangkan Hyang Manikmaya lebih memilih diam dan menyingkir
serta tidak membela salah satu saudaranya.
Tanpa diketahui Sang
Hyang Tunggal, Hyang Antaga dan Hyang Ismaya kemudian sepakat mencari
tempat untuk mengadu ilmu kesaktian untuk membuktikan siapa yang
sebenarnya pantas duduk di singgasana Jonggring Salaka. Sekian lama
keduanya mengadu ilmu kesaktian, ternyata tidak menunjukkan siapa
diantara mereka berdua yang bakal keluar memperoleh kemenangan. Keduanya
kemudian menyetujui untuk berhenti bertarung dan menggantinya dengan
sebuah pertaruhan, yaitu barang siapa yang berhasil memakan sebuah
gunung yang ada di depan mereka, maka dialah yang dianggap sebagai
saudara yang tertua dan dianggap sebagai pemenang serta berhak atas
tahta Jonggring Salaka. Disepakati Hyang Antaga yang mendapat giliran
pertama dan Hyang Ismaya yang berikutnya. Dengan mengerahkan semua
kesaktiannya, Hyang Antaga berusaha memakan gunung itu dengan sekali
makan. Namun sayang hanya sebagian dari gunung itu yang berhasil
dimakannya karena gunung itu kemudian meletus sehingga membuat mulut
Hyang antaga menjadi melebar bentuknya. Beruntunglah Hyang Antaga yang
berhasil memuntahkan sisa gunung yang sudah terlanjur masuk ke dalam
perutnya. Namun demikian, akibat dari gagalnya memakan gunung itu
membuat wajah dan tubuh Hyang Antaga yang semula tampan menjadi buruk
rupa karena mulutnya berubah menjadi besar dan melebar.
Melihat
kegagalan Hyang Antaga, Hyang Ismaya kemudian maju dan berusaha memakan
gunung itu dengan cara perlahan, sedikit demi sedikit.namun akhirnya
berhasil memakan seluruh gunung itu. Akan tetapi pada saat akan
memuntahkan kembali gunung itu dari dalam perutnya, Hyang Ismaya tidak
mampu. Akibatnya perut hyang Ismaya menjadi membesar sementara gigi
depannya hanya tinggal satu yang ada didepan, itupun gigi di bagian
bawah. Sama seperti Hyang Antaga, wajah tampan Hyang Ismaya pun berubah
menjadi buruk dan tidak karuan bentuk badannya.

Demikianlah kisah mengenai asal usul lahirnya Semar, Togog dan Bathara Guru dalam kisah pewayangan yang dikenal hingga kini. Semoga bisa menjadi pelajaran bagaimana perebutan kekuasaan tidak pernah menghasilkan kebaikan dan hanya akan menimbulkan perselisihan.
Komentar
Posting Komentar